Kamis, 23 Mei 2013

KERAJAAN ACEH MASA SULTAN ISKANDAR MUDA



Kerajaan Aceh

Kerajaan yang didirikan oleh Sultan Ibrahim yang bergelar Ali Mughayat Syah (1514-1528), menjadi penting karena mundurnya Kerajaan Samudera Pasai dan berkembangnya Kerajaan Malaka. Para pedagang kemudian lebih sering datang ke Aceh. Pusat pemerintahan Kerajaan Aceh ada di Kutaraja (Banda Aceh sekarang). Corak pemerintahan di Aceh terdiri atas dua sistem: pemerintahan sipil di bawah kaum bangsawan, disebut golongan teuku; dan pemerintahan atas dasar agama di bawah kaum ulama, disebut golongan tengku atau teungku.
Sebagai sebuah kerajaan, Aceh mengalami masa maju dan mundur. Aceh mengalami kemajuan pesat pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607- 1636). Pada masa pemerintahannya, Aceh mencapai zaman keemasan. Aceh bahkan dapat menguasai Johor, Pahang, Kedah, Perak di Semenanjung Melayu dan Indragiri, Pulau Bintan, dan Nias. Di samping itu, Iskandar Muda juga menyusun undang-undang tata pemerintahan yang disebut Adat Mahkota Alam. Setelah Sultan Iskandar Muda, tidak ada lagi sultan yang mampu mengendalikan Aceh.

1). Kejayaan Aceh  masa Sultan Iskandar Muda (1590-1636).
Saat itu Aceh merupakan salah satu pusat perdagangan yang sangat ramai di Asia Tenggara. Kerajaan Aceh pada masa itu juga memiliki hubungan diplomatik dengan dinasti Usmani di Turki, Inggris dan Belanda.Pada masa Iskandar Muda, Aceh pernah mengirim utusan ke Turki Usmani dengan membawa hadiah. Kunjungan ini diterima oleh Khalifah Turki Usmani dan ia mengirim hadiah balasan berupa sebuah meriam dan penasehat militer untuk membantu memperkuat angkatan perang Aceh.

Hubungan dengan Perancis juga terjalin dengan baik. Pada masa itu, Perancis pernah mengirim utusannya ke Aceh dengan membawa hadiah sebuah cermin yang sangat berharga. Namun, cermin ini ternyata pecah dalam perjalanan menuju Aceh. Hadiah cermin ini tampaknya berkaitan dengan kegemaran Sultan Iskandar Muda pada benda-benda berharga. Saat itu, Iskandar Muda merupakan satu-satunya raja Melayu yang memiliki Balee Ceureumeen (Aula Kaca) di istananya yang megah, Istana Dalam Darud Dunya. Konon, menurut utusan Perancis tersebut, luas istana Aceh saat itu tak kurang dari dua kilometer.
Ketika Raja James berkuasa di Inggris, ia pernah mengirim sebuah meriam sebagai hadiah kepada sultan Aceh. Hubungan ini memburuk pada abad ke 18, karena nafsu imperialisme Inggris untuk menguasai kawasan Asia Tenggara.

2). Kehidupan Sosial Budaya

·                     Keadaan Politik
Sultan Iskandar Muda telah menyusun struktur pemerintahan secara rapi dan  menghubungkan antara pusat dengan daerah-daerah. Wilayah inti kerajaan Aceh (Aceh Raya) terbagi atas wilayah sagoe dan wilayah pusat kerajaan.
Tiap sagoe terbagi menjadi beberapa Mukim sagoe XXV mukim (meliputi Aceh Barat). sagoe XXII mukim (berada di bagian Tengah sebelah Selatan) dan sagoe XXVI mukim (terletak di bagian Timur). Masing-masing sagoe terbagi lagi menjadi wilayah vang lebih kecil setingkat distrik.
Kemudian masing-masing distrik terbagi atas mukim-mukim (yang dikepalai oleh seorang imam) sedang masing-masing mukim ini terbagi lagi menjadi gampong-gampong (yang dikepalai oleh seorang Keucik).
Tiap-tiap sagoe dikepalai oleh Panglima Sagoe atau sering disebut dengan Hulubalang Besar yang bergelar Teuku sedang untuk masing-masing distrik dikepalai oleh Hulubalang (Uleebalang) yang bergelar Datuk. Para hulubalang, kecuali hulubalang Pusa, mempunyai kekuasaan yang otonom sifatnya; baik dalam mengatur tata pemerintahan wilayahnya sampai kepada pewarisan tahtanya.
Dalam menjalankan pemerintahan, Sultan dibantu seorang Mangkubumi yang membawahi empat mantri hari-hari (penasihat raja). Disamping itu raja juga dibantu oleh Syahbandar untuk mengurusi keuangan istana, Kepala Krueng (dibantu Dawang Krueng) untu mengurusi lalu lintas di muara sungai, Panglima Losot sebagai penarik cukai barang-barang ekspot-impor dan Krani sebagai sekretaris istana.
Jabatan-jabatan tinggi istana ini kemudian di abad ke-17 dan ke-18 lebih disempurnakan lagi, antara lain:
a.               Hulubalang Rama Setia, sebagai Pengawal Pribadi Istana
b.              Kerkum Katib al-Muluk, Sekretaris Istana
c.             Raja Udah na Laila, sebagai Kepala bendaharawan istana dan perpajakan.
d.              Sri Maharaja Laila, sebagai Kepada Kepolisian; dan
e.               Laksamana Panglima Paduka Sirana, sebagai Penyakapan.
Sistem pergantian raja tidak jauh berbeda dengan sistem di kerajaan lain. Hanya saja tidak selalu terikat pada putra laki-laki saja tetapi wanita, kemenakan atau istri raja yang meninggal pun bisa.
Sedangkan sistem politik yang bersifat eksternal ( yang berkenaan dengan orang-orang Asing), beliau mengambil jalan keras dan mengadakan pengetatan terhadap mereka.

·                                Keadaan Ekonomi
Masa Sultan Iskandar Muda, perekonomian Kerajaan Aceh berkembang pesat. Dearahnya yang subur banyak menghasilkan lada. Kekuasaan Aceh atas daerah - daerah pantai timur dan barat Sumatera menambah jumlah ekspor ladanya. Penguasaan Aceh atas beberapa daerah di Semenanjung Malaka menyebabkan bertambahnya badan ekspor penting timah dan lada.
Aceh dapat berkuasa atas Selat Malaka  yang merupakan jalan dagang internasional. Selain bangsa Belanda dan Inggris, bangsa asing lainnya seperti Arab, Persia, Turki, India, Siam, Cina, Jepang, juga berdagang dengan Aceh. Barang- barang yang di ekspor Aceh seperti beras, lada ( dari Minagkabau ), rempah-rempah   ( dari Maluku ). Serta emas, perak dan timah.
Bahan impornya seperti kain dari Koromendal  ( india ), porselin dan sutera     (dari Jepang dan Cina ), minyak wangi ( dari Eropa dan Timur Tengah ). Kapal-kapal Aceh aktif dalam perdagangan dan pelayaran sampai Laut Merah.







·                                Keadaan Agama

Orang Aceh mayoritas beragama Islam dan kehidupan mereka sehari-hari sangat dipengaruhi oleh ajaran Islam ini. Oleh sebab itu, para ulama merupakan salah satu sendi kehidupan masyarakat Aceh. Selain dalam keluarga, pusat penyebaran dan pendidikan agama Islam berlangsung di dayah dan rangkang (sekolah agama).
Guru yang memimpin pendidikan dan pengajaran di dayah disebut dengan teungku. Jika ilmunya sudah cukup dalam, maka para teungku tersebut mendapat gelar baru sebagai Teungku Chiek. Di kampung-kampung, urusan keagamaan masyarakat dipimpin oleh seseorang yang disebut dengan tengku meunasah.
Pengaruh Islam yang sangat kuat juga tampak dalam aspek bahasa dan sastra Aceh. seperti Bustanussalatin dan Tibyan fi Ma‘rifatil Adyan karangan Nuruddin ar-Raniri pada awal abad ke-17; kitab Tarjuman al-Mustafid yang merupakan tafsir Al Quran Melayu pertama karya Shaikh Abdurrauf Singkel tahun 1670-an; dan Tajussalatin karya Hamzah Fansuri. Peninggalan tersebut merupakan bukti bahwa, Aceh sangat berperan dalam pembentukan tradisi intelektual Islam di Nusantara.
Karya sastra lainnya, seperti Hikayat Prang Sabi, Hikayat Malem Diwa, Syair Hamzah Fansuri, Hikayat Raja-Raja Pasai, Sejarah Melayu, merupakan bukti lain kuatnya pengaruh Islam dalam kehidupan masyarakat Aceh.

·                         Keadaan Sosial
Meningkatnya kemakmuran telah menyebabkan berkembangnya sistem feodalisme dan ajaran agama Islam di Aceh. Lapisan sosial masyarakat Aceh didasarkan  pada jabatan struktural, kualitas keagamaan dan kepemilikan harta benda Kaum bangsawan yang memegang kekuasaan dalam pemerintahan sipil disebut golongan Teuku, sebagai kaum ulama yang memegang peranan penting dalam agama disebut golongan Teungku. Namun antara kedua golongan masyarakat itu sering terjadi persaingan yang kemudian melemahkan aceh. Selain itu juga terdapat Golongan Bangsawan dan Pedagang.

3).    Sebab-Sebab Kemunduran Kerajaan Aceh Darussalam
·                    Setelah Sultan Iskandar Muda wafat tahun 1030, tidak ada raja-raja besar yang mampu mengendalikan daerah Aceh yang demikian luas. Di bawah Sultan Iskandar Thani  (1637-1641), sebagai pengganti Sultan Iskandar Muda, kemunduran itu mulai terasa dan terlebih lagi setelah meninggalnya Sultan Iskandar Thani.
·                    Timbulnya pertikaian yang terus menerus di Aceh antara golongan bangsawan (teuku) dengan golongan utama (teungku) yang mengakibatkan melemahnya Kerajaan Aceh. Antara golongan ulama sendiri pertikaian terjadi karena perbedaan aliran dalam agama ( aliran Syi’ah dan Sunnah wal Jama’ah ).
·                    Daerah kekuasaannya banyak yang melepaskan diri seperti Johor, Pahang, Perlak, Minangkabau, dan Siak. Negara-negara itu menjadikan daerahnya sebagai negara merdeka kembali, kadang-kadang di bantu bangsa  asing yang menginginkan keuntungan perdagangan yang lebuh besar. Kerajaan Aceh yang berkuasa selama kurang lebih 4 abad, akhirnya runtuh karena dikuasai oleh Belanda awal abad ke-20.
·                    Serta Makin Kuatnya kekuasaan Belanda di pulau Sumatera dan Selat Malaka,

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar